Feeds:
Tulisan
Komentar

KOTAK

Lingkungan dimana kita berada bagaikan KOTAK, tidak sadar kita membuat KOTAK itu dengan persepsi kita sendiri.

suatu hari si miskin meminta-minta di depan sebuah supermarket, ia menciptakan KOTAK nya dengan persepsi seorang pengemis, bukan yang lain. lambat laun ia tidak bisa lagi berdebat tentang nasibnya karena ia beranggapan dilahirkan sebagai pengemis.

sementara kita berperasangka, cara berfikir dan bertidak kitapun mengikuti bentuk KOTAK yang kita ciptakan sendiri itu.

so..hidup adalah pilihan.

Pada Rahasia

Di mana cinta bidadari

Dari cemburu yang hilang

Dalam remang-remang peradaban

Mengapa aku terasa aneh

Hidup di alam kristal ini

Tapi sungguh lega paru-paruku

Menghempas nafas yang terasa sempurna

Di atas keluh kesah yang tak lagi menjadi beban

Nun jauh di sana

Pada rahasia-rahasia

Rekayasa “Aku Sampai”

Seperti apa dunia di luar sana

Dalam  degup jantung yang berat

Menelusuri neokorteks di otakku

Memancar dari otak bagian tengah dibawahnya,

mencakar langit, bicara pada semesta

jika memang ia kembali menjadi doa

yang dikabulkan

rupanya peristiwa ini hanya mengukir hidup

dengan hasrat yang mendalam

dan membubuhi tanda tangan sesudahnya

pertanda ia sudah berlalu.

Pangling

Sekarang aku pangling dari perasaanku

Ternyata kita hidup

Dengan garis-garis dari pikiran kita sendiri

Hati yang bimbang, cemas dan bingung, hanyalah prasangka

Dan kita berusaha membenarkannya

Lihatlah dengan jelas kedalam hati

Berlarilah ke dalamnya sedalam yang kau bisa

Hiduplah dalam getaran yang sangat dahsyat tak terkira

Di sana

Hidup tampaknya lembut sekali

Selembut horizon yang menggaris lautan

                   ………………………………………………………………….2008

Pagi…

Pagi…ketika dedaunan masih mengigil

Dilindas cahaya yang memecah embun

“Kau cantik sekali…” kata langit dengan senyum yang biru

Saat kau berkemas

Pelangi  bernyanyi riang tanpa beban

Dan kau memang cantik sekali

hari ini.

Symponi Alam Semesta

Duhai sunyi yang terdengar

Hening yang keasyikan

Detak yang semakin cepat

Berjumpa dengan detak-detak yang lain

Semakin cepat-semakin cepat

cepat

Lalu…

Cemara di terpa angin, daun-daun bergesek,

Gunung terpaku, lautan nan dalam itu,

Hutan yang anggun

burung-burung bernyanyi

subuh yang mengurai embun,

mega-mega maghrib, segalanya

Keinginan bukan lagi hasrat

Menjadi bunga kecil di taman yang luas

Detak itu menghilang

Sembunyi pada getaran yang lebih hebat lagi

Aku terpana ya Rabb

Ketika mega-mega merah rupanya

Ketika sel-sel memecah diri

Betapa bodohnya aku

Tak melihat ujung rambutku yang sibuk

Bernyanyi dan mengejekku

Di simpony alam semesta.

2 oktober 2007

Hasrat Emas

Tiba-tiba semuanya bergerak dengan cepat

Menelusuri waktu yang membentang jauh namun dekat sekali itu

Sebentar lagi kita sampai nak…sebentar lagi…

O, hasrat itu ternyata seindah masa kanak-kanak

Mungkin sama rupanya dengan baling-baling pesawat yang terus berputar,

air terjun yang menghantam dasar sungai, angin yang hinggap di gang-gang perkotaan, di ventilasi rumah-rumah hingga daun kelapa yang menari, atau

angkasa dengan gambar awan berkejaran

o, hasrat

kita berdiri di atas pegunungan berkabut dan menatap pendar cahaya diseberang lautan,

berlari-berlari

hela lelah membuat kadang terpaksa berhenti

istirahat diri yang sejenak itu membuat kita bangkit lagi

berlari-berlarilah….cepat nak..cepat sayang…cepaaat.

dan hidup seperti ibu dan ayah yang menunggu dengan senyuman, anak isteri yang bersorak sorai, kawan-kawan yang kembali menyukaimu

entah sampai, entah hancur,

tapi keyakinan selalu berpendapat berbeda

sebuah pernyataan perang untuk menemukan jiwa

hasrat, fitrah dan kemenangan

dan bayi mungil itu riang gembira

aku sudah terlahir kembali.

MENCARI DIRI

Dalam perjalanan yang indah

dalam hati yang mahal karenanya

setiap kita adalah diri

melukis pagi dengan matahari yang berwarna kuning

dan sungai, air yang jernih ini

tempat hati kubenamkan

mengalirkannya ke muara yang jauh dari kita

sebatang pohon dengan buah berry yang memerah

anggun di tepi sungai

suara apa itu sayang

seperti gemerlap yang tak pernah berhenti

teruus menusuk jiwa

aku melayang

mencari diri yang meninggalkanku